Sambil mempersiapkan bekal, seorang yang hatinya berpaut cinta ilahi akan melepaskan pandangannya sejenak ke masa lalu, membuka album tua yang telah kusam. Bukan untuk berhenti atau terperangkap dalam nostalgia tanpa prestasi, melainkan sebagai penyegar semangat dengan menimba pengalaman membaca sejarah. Sungguh sudah berlalu sunnah-sunnah Allah untuk menjadi berita pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran, 3: 137).
Membaca sejarah berarti menimba hikmah untuk dijadikan pedang menebas segala kebodohan dan kebatilan. Dan sejatinya, cara kita menyikapi sejarah harus bertanya, “Mengapa, bagaimana, dan apa akibatnya? Bukan hanya berhenti pada siapa, kapan dan di mana?
Wallahu a’lam bishshowab…











